Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2012

Jadilah Dokter Pribadi Untuk Diri Sendiri!


Rabu malam tanggal 7 Maret 2012 kemarin saya benar-benar tidak bisa tidur nyenyak. Penyebab dari hal tersebut bukan karena saya sedang patah hati atau habis ditolak seseorang yaa mueehee, hal ini lebih dikarenakan kondisi badan saya yang tidak fit. Entah kenapa beberapa hari yang lalu saya (merasa) sedikit kesusahan untuk bernafas secara normal dan kadang merasakan ketidakseimbangan badan.


Jujur, saya sangat khawatir terhadap kondisi saya ketika itu. Saya khawatir jikalau saya mengalami gangguan jantung dan sesungguhnya saya sempat hampir frustasi memikirkannya.

Saya sempat curhat ke salah satu senior di kantor  tentang apa yang sedang saya rasakan saat itu dan beliau memberikan saran kepada saya untuk memeriksakannya ke poli jantung di kantor tapi saya enggan untuk menjalaninya. Saya takut.


Di dalam hati, saya terus memohon dan berdoa kepada Tuhan semoga apa yang saya rasakan hanyalah sebuah kondisi belum 100% fit-nya badan saya pasca operasi od (odontektomi,red) yang di dukung pula dengan kondisi saya yang sedang menstruasi.

Operasi od kemarin memang menjadi sebuah pengalaman pertama (dan semoga terakhir) menjalani operasi pembedahan dengan bius total. Pada awalnya, sebenarnya saya tidak mau menjalani operasi od tersebut dengan bius total karena ada pilihan lain dengan bius lokal untuk kasus gigi impaksi saya. Hanya saja karena gigi impaksi saya tidak hanya satu tapi empat maka saya (dengan terpaksa) memilih untuk menjalani operasi od dengan bius total. Pertimbangan dari hal ini lebih dikarenakan efisiensi waktu penyembuhan. Coba bayangkan apabila saya memilih untuk menjalani “pencabutan” gigi saya satu persatu maka sudah pasti saya akan bolak balik pergi ke dokter bedah mulut. Saya takut dokter bedah mulut akan bosan melihat saya (begitu juga sebaliknya mueehee).

Tuhan memberikan tingkat ketahanan masing-masing orang dalam menghadapi suatu hal itu berbeda-beda. Pada konteks ini, saya membicarakan tentang efek dari bius total yang saya dapatkan.


Kebetulan pada saat itu yang menjalani operasi od tidak hanya saya saja tetapi juga “tetangga sebelah” yang pada kenyataannya beberapa jam setelah operasi kondisinya sangat baik dan tidak mengalami suatu hal yang mengharuskan untuk terus dipantau.

Berbeda dengan saya, pasca operasi saya mengalami rasa pusing kepala dan mual yang sangat mengganggu hingga akhirnya harus muntah-muntah. Sejujurnya, sebelum operasi dilaksanakan dokter pengelola saya (dokter bedah mulut) sudah banyak memberikan penjelasan mengenai operasi yang akan saya jalani dari A sampai Z dan saya pua banyak menanyakan tentang hal-hal yang sekiranya belum saya pahami. Satu hal yang saya lupakan, saya kurang banyak bertanya kepada dokter anasthesi karena saya kira dampak dari proses pembiusan hanya akan terjadi saat saya dibius saja dan tidak memikirkan dampak tersebut  pasca operasi. Saya tidak menyalahkan dokter anasthesi karena kurang aktif dalam memberikan penjelasan ketika saya juga tidak banyak bertanya. Pengalaman ini mungkin bisa dijadikan pelajaran bagi teman-teman atau keluarga teman-teman yang akan mengalaminya.

“Bertanyalah! Karena bertanya bukan merupakan suatu hal yang salah”.  

Kini, saya (merasa) sudah benar-benar fit. Saya merasa sudah tidak kesulitan dalam bernafas, pusing yang saya alami beberapa hari belakangan ini juga sudah tidak ada lagi dan saya merasa bersyukur terhadap nikmat sehat yang telah diberikan Tuhan kepada saya. Setelah mengobservasi diri sendiri, saya berkesimpulan bahwa kemungkinan rasa pusing dan (rasa) susah bernafas itu muncul dikarenakan kondisi saya yang benar-benar belum fit tetapi harus segera menjalankan aktivitas yang cukup menguras tenaga dan pikiran (kerja,red) dan kondisi saya yang sedang menstruasi. Saya juga baru ingat bahwa kekhawatiran saya terhadap hal itu semua seharusnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena hasil general check up pada diri saya belum lama ini menunjukkan bahwa semua hasil pemeriksaan dalam batas normal.

Kita lebih tau kondisi diri kita sendiri dibandingkan orang lain maka menjaga kesehatan merupakan hal paling penting. So, jadilah dokter pribadi untuk diri sendiri sebelum orang lain menjadi dokter untuk diri kita.

Jumat, 02 Maret 2012

GOOD BYE IMPAKSI ☺

Wohoooo akhirnya gigi impaksi saya hilaaaaang. Setelah diledekin dokter sewaktu periksa ke poli bedah mulut di kantor (baca kisah sebelumnya), setelah mengingat, menimbang, menilai dan merenungkan heee akhirnya saya putuskan untuk melakukan operasi odontektomi untuk kasus multiple impaksi saya.

Pengalaman yang luaaarrrr biasa hee.

Hari Selasa kemarin saya telah menjalani operasi odontektomi dengan lancar. Alhamdulillah :D. 

Selasa pagi tanggal 28 Februari 2012 jam 09.00 saya sudah memasuki ruang operasi. Jujur sih, rasa takut untuk dioperasi memang sempat melanda diri saya akan tetapi karena banyak orang-orang sekitar yang memberikan dukungan serta dokter yang selalu memberikan perhatian yang maksimal maka rasa takut saya hilang sedikit demi sedikit. 

Saya pun sempat bercanda dan diledekin (lagi) oleh para dokter yang akan mengoperasi saya. Kisah ini terjadi ketika ternyata salah satu anggota tim medis yang akan mengoperasi saya adalah seorang teman yang sempat tinggal satu asrama ketika kami menjalankan ujian kenegaraan beberapa bulan yang lalu. 

Saya baru tau jika teman saya termasuk dalam tim medis dalam operasi saya ketika saya merasa tidak asing dengan suaranya walaupun dari ujung kepala sampai ujung kakinya sudah ditutupi oleh seragam operasi. Saya pun banyak bersenda gurau dengan maksud menghilangkan ketegangan yang muncul lagi pada diri saya. Ketegangan saya semakin bertambah ketika layar ekg menunjukkan grafik yang keriting. Saya pun langsung bertanya ke salah seorang anggota tim medis kenapa gambran grafik tersebut demikian dan setelah ditelusuri penyebabnya ternyata elektroda belum terpasang dengan benar heee. 

Disela-sela persiapan operasi tersebut ada seorang dokter yang nyeletuk, “Hayo jangan-jangan ini mantan kamu yaaa”.

Suasana heniiiing.

Kemudian dokter pun memasukkan obat bius hingga saya tidak tau lagi apa yang terjadi selanjutnya.

Pukul 14.30 saya sudah kembali berada di bangsal dengan rasa pusing dan mual yang sangat hebat. Itu semua adalah efek obat bius yang telah dimasukkan ke dalam tubuh saya. 

Singkat cerita, saya diperbolehkan pulang pada hari kamis tanggal 1 Maret kemarin dengan sebuah pesan: “Makannya yang lembek-lembek dulu yaa, yang panas-panas belum boleh dulu terus seminggu lagi kontrol”.

Terima kasih bapak ibu perawat dan dokter bedah mulut RSS

Senin, 13 Februari 2012

Cerita di Balik "Multiple Impaksi"

Finally, setelah nahan sakit gigi selama kurang lebih tiga hari karena impaksi, hari ini saya jadi menemui dokter gigi di poli bedah mulut di kantor. Dokternya sangat ramah, enak diajak ngobrol, cenderung "ngeledekin" saya. 

Saya: "Dok, gigi saya impaksi".
drg. : "Loh, kok tau kalo impaksi? wah peramal nih".
Saya: "Tahun 2007 udah pernah dikasih tau dokter gigi, dok. Udah sempet difoto juga, disuruh operasi tapi saya takut jadi gak saya jalani hingga akhirnya kemaren Jumat nyeri karena impaksinya muncul lagi" (=___=!)
drg. : "Terus?"
Saya: "Saya nyesel, dok. Penyesalan memang selalu di akhir".
drg. : "Jadi penyesalan itu di akhir yaa? gak di depan? (sambil ketawa-ketawa)".
Saya: "Iya (ketawa)".

Cerita selanjutnya di lain kesempatan yaaa :(( (*Penulis lagi stress mikirin solusi yang udah dikasih dokter)

Jumat, 13 Januari 2012

PESAN SINGKAT DARIMU


♪♪♪ Aku yang memikirkan namun…

Suara merdu Monita Idol terdengar dari hape gue dan itu pertanda ada sms masuk. Buru-buru gue buka sms yang baru aja masuk, siapa tau sms dari orang tua, pelanggan, penggemar atau malah dari provider yang memberikan pemberitahuan masa berlaku kartu akan habis.
*Kasian!

Gue baca sms tersebut:
“Yank tlong isi’in aq plsa 10rb di nmor ini 082189996XXX,nnti aq tlpon”. (dari +6282192008xxx, 12-12-2011, 11:26)

Setelah gue baca sms tersebut gue cuma ngebatin ternyata masih ada toh orang-orang yang pake cara beginian.
Huuh..
Gak mempan!
Gak Kreatif!

Gue gak habis pikir kenapa masih ada orang yang melakukan penipuan dengan cara seperti itu. Kreatif dikit napa? :p

Orang yang ngirim sms ke gue tersebut sebenarnya sadar gak sih dengan isi pesan yang dia buat? Kalo nipu dengan cara seperti itu bukannya malah gampang ketauan kan ya. Isi sms dia kan pake kata-kata yank, emang dia tau status orang yang nerima sms tersebut (gue)? Asliii gak kreatif!

Jaman sekarang dari anak SD sampai kakek-kakek dan nenek-nenek udah pada pegang hape, dari model hape kelas bawah sampai kelas atas. Coba bayangin kalau yang nerima sms itu adalah seorang bocah kelas 2 SD atau lebih tepatnya seorang bocah kelas 2 SD yang diasumsikan sudah memiliki kekasih  (oleh si pengirim pesan) berarti dapat diasumsikan (oleh gue)  bahwa si bocah SD tersebut dewasa sebelum waktunya.*ngasal

Orang yang menipu dengan cara seperti itu mungkin menggunakan teori probabilitas.

Pada akhirnya sms tersebut enggak gue bales, enggak juga gue delete.

Selang beberapa hari dari kejadian di atas, gue dapet sms lagi dari +6287887574xxx: “Yank tolong beliin dlu pulsa As10rb dinmr 085319216xxx aq lg ada msalah pnting, nnti aq tlp blik,skrng ya chayank”. (21-12-2011, 03:48)

Yaelah, dapet sms ginian lagi. Dapet sms dari orang-orang kurang kreatif lagi.

Saat itu gue berniat buat ngebales sms tersebut tapi niat itu gue urungkan setelah mendengar maraknya kasus pencurian pulsa sebagai akibat dari membalas sms dari orang yang tidak dikenal berkedok meminta pulsa, pemberitahuan pemenang undian ataupun kedok lainnya. Gue gak mau jadi korban sedot pulsa!

Tanggal 5 Januari 2012 jam 15.45 WIB gue dapet sms yang enggak kurang kreatif lagi tapi sangat tidak kreatif dan gak masuk akal. Berikut sms tersebut:
“Uangnya ditransfer aja ke Bank BRI: 0136 0101 8053 xxx a/n: WISNU YUDHASMARA klo sdh dikirim sms aja. trims”.

Sebenernya siapa Wisnu Yudhasmara? Bapak gue tentu bukan. Adek-adek gue juga enggak mungkin. Saudara gue kayanya juga bukan karena gue gak punya saudara dengan nama tersebut. Atau mungkin dia adalah calon suami gue??? *ngaco abis

Hmm…
Kesel gue dapet sms-sms begituan. Semakin berkembangnya teknologi komunikasi ternyata semakin tinggi juga penyalahgunaan teknologi tersebut. Gue rasa, resiko menjadi korban berbagai macam bentuk penipuan memang tergantung dari kecermatan dan kewaspadaan user. Oleh sebab itu gak ada salahnya kalau kita tidak hanya menjadi user yang asal pake teknologi komunikasi tapi menjadi user yang cerdas dalam pemakaian teknologi komunikasi. :))

Minggu, 08 Januari 2012

Chit chat with STRANGERS

Gue punya beberapa pengalaman unik sewaktu ngobrol dengan strangers di dunia maya melalui aplikasi chat dari mulai mig33, omegle, mirc, mxit dan sebagainya. Sebenernya, alasan utama gue chat dengan strangers adalah mencari teman baru, mengasah kemampuan berbahasa inggris (yang kenyataannya sampai sekarang masih belepotan), bertukar pengetahuan dan iseng. Yup, ngisengin orang.

Dulu gue pernah ngobrol dengan stranger di omegle. Gue kagum banget sama bahasa inggrisnya yang cas cis cus gitu. Dan ternyata setelah cukup lama ngobrol kesana-kemari, orang yang gue ajak ngobrol tersebut adalah seorang bocah yang duduk di bangku sekolah dasar.

GUE SYOK!

Jadi, saat itu gue ngobrol sama seorang anak SD dari Tangerang yang kemampuan bahasa inggrisnya nyaingin anak kuliahan yang tentunya anak kuliahan dengan kemampuan bahasa inggris yang enggak pas-pasan.
Dalam memulai sebuah percakapan dengan orang yang belum dikenal di dunia maya biasanya menggunakan beberapa istilah kayak “ASL” yang artinya Age Sex Location. Gue kadang mikir, pertanyaan “ASL” kayak gitu kesannya malah kayak lagi nyari orang terus mau janjian di suatu tempat. Gak ngerti juga kenapa gue bisa berpikiran seperti itu.

Saking bosennya gue dengan kebiasaan di awal permulaan percakapan dalam dunia per-chating-an dengan permintaan “ASL pls”, gue pernah melakukan keisengan yang malah bikin gue ketawa-ketawa sendiri.
Saat itu gue ngobrol dengan beberapa orang asing (masih) di omegle. Ketika dia nanya jenis kelamin gue maka gue jawablah pertanyaan darinya dengan jawaban singkat berupa “50:50”. Respon mereka pun bermacam-macam, dari mulai langsung memutus percakapan (disconnected) sampai ngobrol panjang lebar yang ujung-ujungnya mereka uring-uringan mueeheeehee.
Dan siang tadi gue sempet disapa oleh stranger dari negara lain. Keisengan gue pun muncul. Berikut buktinya:  

Ketika si orang asing tersebut nyapa gue, gue sengaja ngejawab pake bahasa Indonesia sampai akhirnya muncul jawaban yang gue lingkarin di atas.


 Sengaja masih gue tanggepin pake bahasa Indonesia. 


Hingga akhirnya udah mulai gak sopan dan gue akhiri keusilan gue tersebut.

Sebenernya gak semua orang asing itu selalu bersikap sama seperti contoh di atas. Gue beberapa kali pernah nemuin orang-orang asing yang pada akhirnya sampai detik ini kita masih berteman dan berkomunikasi.
Berkomunikasi dengan orang asing dan mencari teman-teman baru di dunia maya itu sah-sah aja sih menurut gue. Kalo beberapa waktu yang lalu ada berita tentang beberapa anak yang hilang karena diculik teman mereka yang notabene kenal dari dunia maya, mungkin orang-orang dewasa disekeliling anak tersebutlah yang kurang memberikan pengertian dan pengawasan terhadap anak tersebut. Maklumlah anak-anak jaman sekarang udah jauh lebih pinter dari anak-anak jaman dahulu pada usia yang sama. Kalo dulu anak umur 7 tahun masih nyanyi lagu “Desaku”, anak jaman sekarang nyanyinya lagu “I Heart You” mueeheehee.

Senin, 26 Desember 2011

Orang Indonesia yang KURANG MENCINTAI produk Indonesia

Hei apa kabar teman? Kayaknya udah lama nih gak nengokin blog ini. Gak bikin tulisan baru. Gak bikin tulisan itu bukan berarti lagi males nulis yaa. ENGGAK! Enggak salah. *loooh

Sebenernya gue jarang nulis itu lebih dikarenakan sulitnya gue buat ngedapetin mood buat nulis padahal bahan tulisan udah ada di otak. Enggak tau kenapa akhir-akhir ini bisa kayak gini.

Gue udah pernah nyoba buat nulis disaat mood nulis gue pas-pasan. Dan menurut gue, hasil tulisan gue tersebut kurang maksimal. Bahasanya kacau.*emang sebelum-sebelumnya udah bener? :p. Paling kalau dinilai Bapak atau Ibu Guru Bahasa Indonesia tulisan gue  dapet nilai 6. Mentok 6,5 hueeheeehe.

Malam ini gue akan berbagi peristiwa yang gue alami tadi sore. Tulisan ini gue buat sebagai bentuk keprihatinan gue terhadap kondisi masyarakat saat ini. Semoga temen-temen bisa menemukan sesuatu yang dapat temen-temen ambil sendiri dari peristiwa ini.
Selamat membaca :)

Tadi sore gue belanja di sebuah toko deket rumah. Awalnya gue belanja di toko tersebut nyari “sesuatu” buat kado temen tapi gak tau kenapa pada akhirnya gue malah membeli beberapa barang yang gak masuk dalam daftar rencana pembelian barang.

Saat dikasir, saat gue nunggu mbak kasirnya ngitung total biaya belanjaan gue, gue ngedengerin percakapan seorang ibu dengan mbak-mbak penjaga toko tersebut. Berdasarkan penglihatan gue, mereka cukup akrab.

Awalnya percakapan mereka biasa-biasa saja tapi setelah gue cermati dengan seksama, percakapan mereka jadi luar biasa dan berhasil membuat gue jadi berpikir, merenung dan akhirnya membuat tulisan ini ketika si ibu dengan bangga mengungkapkan kebanggaannya menggunakan produk-produk bermerk. Gue sih gak masalah si ibu menceritakan kebanggaannya memakai produk-produk bermerk, sah-sah aja, hak masing-masing individu untuk memilih dan menggunakan apa yang akan dipakai hanya saja yang bikin gue geleng-geleng kepala adalah alasan si ibu lebih memilih produk bermerk yang biasanya didominasi oleh produk buatan luar negeri karena si ibu ingin terlihat “wah” dihadapan orang lain, tidak ingin dianggap orang yang biasa-biasa saja. Pendek kata makin bermerk barang yang digunakan makin tinggi orang memandang.

GUE PRIHATIN.

Gue kecewa dengan pemikiran dangkal semacam itu.

Gambaran kehidupan masyarakat sekarang nampaknya memang begitu adanya. Coba amati deh yang kebanyakan orang gunakan sekarang:
Jalan-jalan naik kendaraan buatan Jepang, pakaian yang dikenakan buatan Italia, tas buatan Inggris, telpon genggam buatan Canada, sandal buatan Paris. Seperti itulah gambaran kaum borjuis.

Sebenernya produk-produk Indonesia itu bagus. Kalau menurut gue produk-produk Indonesia banyak yang unik. Memang sih untuk jenis barang tertentu seperti barang-barang elektronik ataupun kendaraan bermotor, buatan luar negeri lebih berkualitas dibanding buatan Indonesia. Gue pribadi mengakui keunggulan negara-negara maju seperti Jepang, Inggris, Jerman dan negara maju lainnya sebagai produsen produk-produk dengan sentuhan teknologi tinggi untuk saat ini.

Ketika sekarang temen-temen dihadapkan dengan pilihan untuk memilih telpon genggam buatan Jepang atau buatan Indonesia dan temen-temen lebih memilih buatan Jepang, gue pribadi bisa memakluminya.
Bangsa Indonesia masih harus banyak belajar dari negara-negara maju dan gue yakin suatu hari nanti Bangsa Indonesia bisa membuat produk-produk yang jauh lebih unggul dari apa yang mereka buat sekarang.

Seandainya temen-temen dihadapkan dengan pilihan lain misal memilih sandal buatan Paris atau buatan Indonesia dan temen-temen lebih memilih sandal buatan Paris mungkin gue bisa jadi akan geleng-geleng kepala.

Be aware meeeeenn!

Mungkin temen-temen perlu meningkatkan kesadaran temen-temen terhadap keadaan sekitar kalau di daerah temen-temen itu ada produk lokal yang kualitasnya gak kalah bagus dengan produk buatan luar.

Gue kasih contoh di diri gue yaa.*gak bermaksud sombong

Gue adalah orang yang tidak terlalu memikirkan sebuah merk pada suatu barang. Gue lebih seneng pake sandal lima belas ribuan yang gue beli di jalanan Malioboro dibandingin sandal yang harganya ratusan ribu di sebuah toko di jalan Malioboro. Kenyamanan adalah hal utama buat gue. Gue juga tipikal orang yang cuek dengan pendapat orang tentang penampilan gue. Sekali lagi, kenyamanaan is number one. Kalau sandal lima belas ribuan sudah terasa nyaman di kaki (plus nyaman di hati) kenapa harus memilih sandal yang harganya ratusan ribu :))

Nah…
Ketika temen-temen hampir selesai membaca tulisan ini, semoga didalam hati terdalam temen-temen sudah terbit niat untuk lebih mendukung dan mencintai produk-produk dalam negeri.

Kita membeli dan kita mensejahterakan bangsa sendiri.


                                                      100% INDONESIA

Kamis, 15 Desember 2011

KURA-KURA DAN SEBUAH UNGKAPAN “CINTA”

Entah kenapa tadi pagi sewaktu di jalan saat perjalanan ke kantor gue tiba-tiba keinget sebuah kejadian “unik” waktu SMA, kejadian yang selalu membuat gue tersenyum simpul ketika mengenangnya. :))

Kini gue akan membagi sepenggal kisah yang pernah terjadi di kehidupan gue sehingga ketika temen-temen membaca tulisan ini, semoga temen-temen bisa ikut tersenyum simpul juga.

Gue kasih judul: Kura-kura dan sebuah ungkapan “CINTA”

Jaman SMA dulu, gue termasuk murid yang biasa-biasa saja. Bukan golongan murid nakal (plis, percaya yaaa) dan bukan golongan murid yang populer (kasian deh) tapi kalau pun gue populer mungkin gue populer dengan ketidakpopuleran gue hee.

Sebagai seorang murid yang biasa-biasa saja, gue sangat beruntung diberikan kesempatan untuk bisa ikut berpartisipasi dalam kepengurusan OSIS (walaupun sebagai pengurus yang kurang aktif atau malah gak aktif hee) dan beberapa kepengurusan lain seperti koperasi sekolah.

Jika kita sedikit menilik cerita dari beberapa FTV di Indonesia, seorang murid yang masuk dalam kepengurusan organisasi sekolah atau pun ikut kegiatan ekstrakurikuler maka sangat dimungkinkan murid tersebut akan menjadi terkenal dan banyak penggemar.

Naah kalo gue??

Buat gue, ikut atau pun gak ikut kepengurusan atau kegiatan organisasi di sekolah itu tetep menjadikan gue seorang murid yang biasa-biasa saja. Sekali lagi gue tegaskan bahwa kalaupun gue populer, gue populer dengan ketidakpopuleran gue hueeheueehuee.

Kegiatan keorganisasian gue disekolah vakum total ketika gue duduk di kelas XII dimana sebagian besar waktu gue dihabiskan untuk belajar, belajar dan belajar.

Bayangin deh, jam 6 pagi sudah harus hadir dikelas ngerjain soal-soal latihan dari guru dilanjutkan dengan proses belajar di kelas seperti biasa sampai siang dan kemudian disambung lagi dengan pendalaman materi sampai sore. Ini semua dilakukan untuk persiapan menghadapi ujian nasional. Ujian yang banyak ditakuti oleh para pelajar, momok yang sangat menyeramkan sampai bisa bikin pingsan, rambut acak-acakan, gak mandi seharian, lupa makan, lupa pacaran karena kebanyakan belajar :p

Ngomong-ngomong tentang pacaran, jaman SMA adalah masa dimana kisah kasih di sekolah menjadi hal yang paling menarik untuk disimak. Temen-temen yang sedang membaca tulisan ini pasti punya kisah kasih di sekolah juga kan? :D, gue pun demikian. :))

Sebut saja namanya Budi Haryadi (bukan nama sebenarnya), dia sering gue panggil Didi. Gue baru mengenal Didi sejak duduk di kelas XII. Sebenarnya gue sudah tau sosok Didi sejak kelas X tapi itu hanya sebatas tau saja karena baru di kelas XII lah kami ditakdirkan untuk menjadi teman belajar sekelas dan bisa lebih saling mengenal karakter satu sama lain.

Didi termasuk murid yang cukup populer dikalangan para guru. Kepopulerannya mungkin disebabkan karena kebiasaan dirinya tiba di sekolah agak lebih siang dibandingkan dengan siswa lainnya. Gue sendiri sebenernya juga tidak begitu tau kenapa dia jarang bisa tiba di sekolah kurang dari jam 7 pagi.

Didi termasuk salah satu temen sekelas yang (menurut gue) cukup akrab dengan gue. Sifat dia yang kadang konyol, unik dan gampang “dianiaya” lah yang ngebuat gue senang berteman dengannya. Gue kadang kasian kalau dia dijadikan bahan ejekan atau obyek “penganiayaan” oleh temen-temen. Tapi gue sebenernya lebih kasian lagi kalo Didi gak dikerjain temen-temen ^^v

Seiring berjalannya waktu, kami pun semakin akrab hingga akhirnya tanpa gue sadari Didi menjadi begitu perhatian ke gue atau mungkin lebih tepatnya sering memperhatikan gue. Ani, temen sebangku gue dan juga temen akrab Didi adalah orang pertama yang menyadari perubahan sikap Didi ke gue. Ani sering memperhatikan Didi curi-curi pandang ke gue. Pada akhirnya, Ani memberitahukan “pemandangan unik” yang sering dilihat oleh dirinya ke gue.

Gue gak percaya!

Hari demi hari di sekolah gue jalani seperti biasa hingga pada akhirnya tidak hanya Ani yang tau kalau sebenernya Didi menaruh perhatian ke gue. Gak jarang temen-temen ngeledekin Didi dan gue. Kalau udah kayak gitu, gue cuma bisa pura-pura gak denger, pura-pura gak ngerti dan pura-pura gak peduli.

Pendek cerita…

Saat hari libur, Didi diantar oleh Dedi (temen sekelas juga) ke rumah.

Gue SYOK.
Gue PINGSAN. *gak kayak gitu juga ding hee

Tumben-tumbenan aja dua orang temen gue ini pada maen ke rumah tapi gak ngasih kabar terlebih dahulu. Dengan wajah bingung dan penuh pertanyaan di kepala, gue persilahkan mereka untuk masuk ke rumah.

Gue: “Tumben-tumbenan nih pada maen. Kok gak ngasih kabar dulu? Kok bawa kura-kura segala? Iiih lucu bangeeeett deh”.
Dedi: “Iya ini sengaja mampir ke sini. Nganterin si Didi nih mau ngasih kura-kura heehee. Oh iya, gue tinggal dulu ya. Ada urusan sebentar.”
Gue: “Loh, mau kemana?” (pasang muka heran tingkat anak kuliahan).
Dedi: “Ada urusan sebentar, nanti gue balik lagi kesini kok”.
Gue: “Oh, ya udah kalo gitu”.

Dedi pun pergi…

Didi: “Ini kura-kura buat kamu. Dirawat baik-baik yaa” (sambil nyerahin dua ekor kura-kura).
Gue: “Loh kok tau kalo gue ada rencana mau miara kura-kura?”
Didi: “Denger dari temen”.
Gue: “Ini serius buat gue?”
Didi: “Iya”.
Gue: “Gak ada maksud buat nyuapkaaaan? hahahahaaa”.
Didi: “Apaan sih hee”

Gue pun asik ngeliatin dua ekor kura-kura yang dikasih Didi ke gue.

Didi: “Gue mau ngomong sesuatu ke kamu tapi kamu janji yaa gak marah”.
Gue: “Lah kenapa juga marah? Ada apa?”

Muka Didi berubah memerah dan tampak gugup. Dan tiba-tiba…

Didi: “GUE SAYANG KAMU”

Suasana ruang tamu pun hening beberapa saat. Hanya terdengar suara sapi tetangga dari luar rumah.

Gue: “Kamu kerasukan ya? hahahaha” (gue berusaha mencairkan suasana).
Didi: “Gue serius” (masih memasang muka yang memerah dan terlihat gugup).

Hening beberapa saat…

Gue: “Emm, rasa sayang itu hak setiap orang, Di. Kamu berhak untuk menyayangi siapa pun karena rasa sayang adalah pemberian Tuhan. Gue sangat berterima kasih karena kamu udah sayang ke gue. Saat ini gue lebih nyaman kalo kita berteman. Kamu bisa mengerti kan?”
Didi: “Tapi kenapa??”
Gue: “Gue gak mau nyakitin perasaan kamu kelak, gue lebih nyaman kalau kita berteman”.

Susana kembali hening…

Didi: “Gue juga gak bisa maksain kamu untuk sayang ke gue dan gue berusaha untuk nerima kenyataan ini. Setidaknya gue sudah berusaha untuk mengungkapkan apa yang selama ini gue rasa”.
Gue: “Terima kasih yaa”. :))

Hening kembali….

Didi: “Ini makanan kura-kuranya udah aku beliin sekalian. Nanti ngasih makannya jangan banyak-banyak, mending sedikit-sedikit aja biar gak ngotorin air, biar gak ngebuat jamur-jamur cepet muncul”. 

Gue: “Iya” :))

Dedi pun datang dan masuk ke ruang tamu.

Gue: “Udah selesai urusannya?”.
Dedi: “Udah”.

Suasana hening kembali kemudian Dedi berbisik ke Didi.

Didi: “Kita mau pamit sekarang nih”.
Gue: “Kok cepet? Gak nanti aja pulangnya?”.
Dedi: “Nanti kesorean”.
Gue: “Oh, ya sudah kalau gitu”.

Gue pun mengantarkan mereka ke luar rumah sampai pintu gerbang.

Gue: “Terima kasih ya kura-kuranya, Dedi”.
Dedi: “Itu Didi yang beli”.

Didi hanya tersenyum.

Gue: “Terima kaih banyak yaa, hati-hati di jalan”.
Dedi dan Didi: “Assalamu’alaikum”.
Gue: “Wa’alaikumsalam”.


*Catatan:
# Cerita ini gue buat dengan maksud untuk berbagi kisah saja tanpa ada maksud-maksud tertentu.
#Terima kasih untuk Didi (bukan nama sebenarnya) atas kura-kura yang pernah diberikan dan gue ingin berterus terang bahwa beberapa hari setelah kura-kura itu berpindah tangan ke gue, satu ekor kura-kura mati dimakan tikus. Sejujurnya gue kesel. Maaf yaaa :)

“QUOTE: Jika cinta, KATAKANLAH!”

Kamis, 01 Desember 2011

KEYSA, APA KABARMU HARI INI ???

Malam ini saya akan menceritakan sebuah kejadian luar biasa yang pernah terjadi di dalam hidup saya. Pengalaman menemukan seorang bocah SD yang kabur dari rumah.

Saya memanggilnya Keysa (bukan nama sebenarnya). Bocah yang seharusnya duduk di bangku sekolah dasar kelas 3 itu saya dapati sedang berjalan sambil menangis tersengguk-sengguk di depan sebuah SD saat malam menjelang. Saya masih ingat bagaimana ekspresi dan tatapan mata Keysa waktu itu. Tatapan mata yang menyiratkan kebingungan dan kesedihan mendalam seorang bocah berumur 9 tahun.

Saya tidak bisa berpikir bagaimana jadinya jika sore itu saya tidak jadi keluar rumah bersama ibu. Apa jadinya jika saat itu saya lebih memilih untuk beristirahat di kamar saja setelah lelah bekerja daripada menemani ibu berbelanja? Bagaimana keadaan Keysa jika saat itu kami tidak jadi keluar rumah dan tidak mendapati dirinya yang sedang sendirian menjelang malam dalam kesedihan mendalam?

Ya Allah Ya Tuhanku…
Engkaulah penulis skenario kehidupan setiap insan.
Engkaulah yang menciptakan sebuah pertemuan dan sebuah perpisahan.
Engkaulah Sang Pemberi Ketetapan :’)

Singkat cerita, kami pun memutuskan untuk membawa Kesya pulang ke rumah. Selama perjalanan menuju ke rumah, air mata Keysa tak berhenti keluar. Melihat keadaan Kesya saat itu membuat hati saya tersayat-sayat. Anak sekecil itu sudah berani kabur dari rumah.

Sesampainya di rumah, ibu berusaha menenangkan Keysa agar tidak menangis lagi sedangkan saya berusaha menenangkan diri saya sendiri agar tidak ikut menangis. Setelah tangis Kesya reda, saya pun memberinya segelas teh hangat agar dia menjadi lebih tenang lagi dan bisa “diintrogasi” lebih mendalam. Dari hasil introgasi bapak, ibu dan saya diperolehlah jawaban dari pertanyaan tentang asal usul Keysa, kenapa dia kabur, bagaimana dia kabur dan sebagainya. Bapak, ibu dan saya sangat kaget dengan jawaban-jawaban Keysa terhadap pertanyaan kami. Diceritakannya dengan detail semua kejadian yang dia alami. Keysa adalah anak yang cerdas.

Keysa adalah anak tunggal dari sepasang suami istri sebut saja Bapak Keysa dan Ibu Keysa yang sudah lama bercerai. Keysa saat itu tinggal bersama ayahnya. Saat tinggal bersama ayahnya, Keysa tidak sekolah. Dia tidak sekolah bukan karena dilarang oleh ayahnya tetapi karena keinginan dia sendiri untuk lebih banyak membantu ayahnya berjualan air isi ulang.

Sedangkan penyebab kenapa Keysa kabur adalah karena dia sering dimarahi oleh bapaknya akibat dia bermain terlalu jauh.  Keysa sendiri bercerita bahwa saat kami menemukannya di jalan, dia sebenarnya akan pergi ke rumah ibunya. Keysa merasa bahwa perlakuan ibunya lebih baik daripada bapaknya.

Disela-sela kami menanyainya, saya menawari Keysa untuk makan. Keysa pun menolak penawaran itu karena dia sudah makan di angkringan sewaktu kabur dari rumah. Saat kabur dari rumah, dia membawa uang Rp 5.000,00 untuk bekal di jalan. Sekali lagi, saya dibuat tercekat oleh pernyataan dari dirinya.

Mendengar penjelasan Keysa, hati saya semakin tidak karuan. Air mata serasa ingin tumpah tak tertahan.

Malam semakin larut, ibu pun merayu Keysa untuk tidur di rumah tetapi tangis Kesya malah kembali pecah. Pada akhirnya, bapak dan ibu mengantarkan Keysa ke rumah ibunya yang ternyata tidak jauh dari tempat kami tinggal.

Dari kejadian ini, saya belajar bahwa menikah adalah sebuah komitmen dihadapan Tuhan yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Anak adalah titipan Tuhan yang berhak mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tua dan bukan malah menjadi korban perceraian.

Keysa, apa kabarmu hari ini ???
:’))

Jumat, 04 November 2011

Hasil Survei: ”Kenapa sih laki-laki suka ngasih boneka ke wanita?”


Selamat pagi (huaaaaaeeemmmm... *nguap)

Alkisah, Kamis sore sepulang kerja gue mampir ke sebuah pusat perbelanjaan di Jogja, nyari barang buat adek gue. Setelah 1 jam milih-milih barang yang dicari dan akhirnya dapet barang yang gue anggep cocok buat adek gue, gue buru-buru ke kasir yang udah ada antrian panjaaaaang banget kayak ular naga.

Nah, sewaktu ngantri di kasir, gue ngeliat anak SMA (laki-laki) sedang bayar barang yang dia beli. Gue cuma senyum-senyum sendiri kayak orang dengan gejala gangguan jiwa gitu habis liat barang apa yang dibeli sama tu bocah.

Dia beli BONEKA HELLO KITTY WARNA PINK meeeeennnn.

Gue memperkirakan mungkin boneka-hello-kitty-warna-pink tersebut buat ceweknya atau cewek yang sedang dideketin sama tu bocah hueeehee.

Setelah kajadian yang gue ceritain di atas, gue jadi mikir kenapa sih laki-laki suka ngasih boneka ke wanita?

Dulu sih, jaman gue masih sangat muda, jaman gue kuliah, gue sempet dapet boneka dari seseorang. Gue juga gak ngerti kenapa dia ngasih boneka ke gue, boneka katak warna hijau (kayaknya sih nama tokoh boneka itu KERORO). Kenapa dia gak ngasih kunci motor aja atau mungkin kunci mobil atau kunci pintu hatinya aja gitu *eaaa (kata-kata yang terakhir bercanda yaa *catet).

Mungkin dia dan kebanyakan laki-laki berpikiran bahwa wanita itu memiliki sifat lembut, feminin, suka barang-barang berbau pink dan sangat suka dengan boneka. Mungkin dia dan kebanyakan laki-laki berpikiran juga bahwa boneka adalah representasi dari wanita. Mungkin masih ada kemungkinan-kemungkinan lain yang belum gue ketahui juga. Mungkin. *puyeeeeng

Nah, dari pada gue puyeng sendiri mikirin kemungkinan-kemungkinan alasan yang mungkin belum gue tau dari pertanyaan kenapa laki-laki suka ngasih boneka ke wanita, gue pun memutuskan untuk melakukan survei kecil-kecilan ke temen-temen gue yang notabene berjenis kelamin pria. Dari beberapa temen yang gue texting, ditemukanlah jawaban-jawaban sebagai berikut :

A : Gak juga ah.. 

Aa : Knpa y,, Nek q pngnny ksh bunga tp malu beliny n tlalu vulgar, jd bneka wae..ha.a
Ckck, ge galau po bu :p

Ag : Cz kbnyakan cwe suka boneka :-)

D : Mmmmmm... G semuanya kali dilla... Cwok ngash boneka... Tergantung kesukaan dia apa? Klo dia g  suka boneka ya g ngasih boneka, klo q lho... It... Pendapatku... Ngasihnya yg dia suka apa? Gt... Paling g kita tau.. Kesukaan dia apa.. Atau ngoleksi barang apa...

E : 1) Ak g prnh ngsih boneka ki..
Biasane ta kasih hal2 sdrhana kesukaan cewek.hahaha.. 2) Lha kan ak g ngerti??ak kan bukan type laki2 yg suka ngasih boneka..haha..Mgkn lho ya,,krn laki2 brpkiran kl wanita tu kbnykn suka boneka..mgkn..

M : Kyx g smua lki2 sk ksih bneka.....ad jg yg ska ksih bunga, cokelat, baju dll...trgantung orgx

R : Lucu dan pasti dletakkan g jauh dari cew dikamarnya,hahaha

S : Krn gk taw pilian yg laen

Y : Aku g suka,,
Mending ngasih lagu :))

Z : karena pada hakikatnya,wanita butuh pengganti sang lelakina yaitu boneka di saat lelakina gak bisa di sisina :)


Well...
Dari jawaban temen-temen gue di atas, menurut gue jawaban yang paling bisa diterima untuk menjawab sebuah pertanyaan kenapa laki-laki suka ngasih boneka ke wanita adalah jawaban dari Z yang bunyinya “Pada hakikatnya, wanita butuh pengganti sang lelakinya yaitu boneka disaat lelakinya gak bisa disisinya".

*tepuk tangan buat Z

Gue sebagai salah satu anggota dari kaum wanita cenderung setuju dengan jawaban Z. Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa tidak ada wanita di dunia ini yang bisa hidup sendirian karena wanita adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi dengan orang-orang sekitar. Wanita butuh menjalin hubungan dengan orang spesial, menghabiskan banyak waktu bersama, menua, selamanya.

Kesimpulan ngasal gue :
Seorang pria yang memberi boneka kepada seorang wanita memiliki pengharapan bahwa boneka yang diberikannya dapat membantu sang wanita tetap merasa berada disisinya ketika sang pria belum bisa selalu bersama dengan dirinya karena hubungan mereka belum disahkan di KUA. :)